Minggu, 23 Maret 2014

1. PENDAHULUAN

1. PENDAHULUAN 

      Sensus pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian ke enam yang diselenggarakan badan pusat statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963.pelaksanaan ST2013 merupakan amanat undang-undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik dan mengacu pada jumlah rekomendasi dari food and agriculture organization (FAO) yang menetapkan " The programme for the 210 around agricultural cencuses covering periode 2006-2015". Pelaksanaan ST2013 dilakukan secara bertahap, yaitu pencacahan lengkap usaha pertanian pada mei 2013 dilanjutkan dengan pendataan rinci melalui survei pendapatan rumah tangga usaha pertanian pada november 2013 dan survei stuktur ongkos komoditas pertanian strategis setiap subsektor pada mei-oktober 2014.
       Dalam Berita Resmi Statistik (BRS) ini, data jumlah rumah tangga usaha pertanian 2003 dihitung dari data mentah ST2003 dengan menggunakan konsep ST2013 yang tidak menggunakan batas minimal usaha dan master willayah ST2013 untuk rumah tangga usaha pertanian .


2. USAHA PERTANIAN 

       Rumah tangga usaha pertanian pada tahun 2013 mengalami penurunan sebanyak 30.615 rumah tangga dari 103.730 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 73.115 rumah tangga tahun 2013, yang berarti terjadi rata-rata penurunan sebesar 2,95 persen per tahun. secara absolut penuruna terbesar terjadi subsektor peternakan dan penurunan terendah di subsektor perikanan, yaitu masing-masing turun sebanyak 26.412 rumah tangga dan 967 rumah tangga. terjadi penurunan secara persentase paling besar selama 10 terakhir adalah subsektor jasa pertanian yaitu sebesar 49,89 persen, sedangkan perkebunan menjadi subsektor dengan tingkat penurunan terendah yaitu sebesar 26.82 persen.

  Grafik 1
Perbandingan jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut subsektor 
di kabupaten purwakarta tahun 2003 dan 2013 

















        Berdasarkan hasil pencacahan lengkap ST2013 diketahui bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian di kabupaten purwakarta pada tahun 2013 sebesar 73.115 rumah tangga. subsektor tanaman pangan, peternakan dan holtikultura merupakan tiga subsektor yang memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak yaitu masing-masing 56.495 rumah tangga, 37.052 rumah tangga, dan 32.796 rumah tangga. sementara itu, subsektor perikanan merupakan subsektor yang paling sedikit memiliki rumah tangga usaha pertanian, yaitu sebanyak 6.250 rumah tangga.

Tabel 1 
Rumah Tangga Usaha pertanian menurut subsektor tahun 2003 dan 2013
di kabupaten purwakarta

















Keterangan : Satu rumah tangga usaha pertanian dapat mengusahakan lebih dari 1 sub subsektor usaha 
pertanian,sehingga jumlah rumah tangga usaha pertanian bukan merupakan penjumlahan rumah tangga usaha pertanian dari masing-masing subsektor tanaman pangan,holtikultura,perkebunan,peternakan,perikanan,kehutanan dan jasa pertanian.
        Secara umum jumlah rumah tangga pertanian ditiap golongan luas lahan pada tahun 2013 menurun jumlahnya dibanding tahun 2003. rumah tangga pertanian yang menguasai lahan kurang dari 1000 m2 pada tahun 2013 jauh menurn dibanding tahun 2003 dari 48.171 rumah tangga menjadi hanya sebanyak 18.350 rumah tangga. hanya golongan luas lahan 2000-4999 m2 yang pada tahun 2013 jumlahnya naik sedikit.


Grafik 2
Perbandingan jumlah rumah tangga pertanian menurut golongan luas lahan 
yang dikuasai tahun 2003 dan 2013 di kabupaten purwakarta

















 


         Sensus pertanian 2013 mencatat secara keseluruhan rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan di kabupaten purwakarta mengalami penurunan sebanyak 30.615 rumah tangga. pada tahun 2003 rumah tangga yang menguasai lahan sebanyak 103.730 rumah tangga,sedangkan pada tahun 2013 menurun menjadi 73.155 rumah tangga, atau penurunannya sebesar 29,51 persen. rumah tangga yang menguasai lahan terbanyak pada golongan luas lahan 2000-4999 m2 yaitu sebanyak 23.671 rumah tangga sedangkan yang menguasai lahan diatas 30.000 m2 hanya sebanyak 523 rumah tangga 


Tabel 2
Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut golongan luas lahan yang dikuasai 
Tahun 2003 dan 2013 di kabupaten purwakarta


















          Dari seluruh rumah tangga usaha pertanian pada tahun 2013 sebesar 99,07 persen merupakan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan (72.436 rumah tangga). sedangkan rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan hanya sebesar 0,62 persen, atau sebanyak 679 rumah tangga selama kurun waktu sepuluh tahun, rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan mengalami penurunan sebesar 29.632 rumah tangga atau sebesar 29,03 persen.


 Tabel 3
Jmlah rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan menurut kecamatan 
tahun 2003 dan 2013 di kabupaten purwakarta






















        Penurunan jumlah rumah tangga terbesar secara absolut terjadi di kecamatan babakan cikao yang mencapai 4.912 rumah tangga. sementara itu penurunan jumlah rumah tangga pengguna lahan terbesar secara persentase terjadi di kecamatan Purwakarta yang mencapai 73,41 persen. pada tahun 2003, jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan  di kecamatan purwakarta mencapai 5.193 rumah tangga selanjutnya pada tahun 2013 hanya 1.381 rumah tangga.sedangkan jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan sebanyak berada di kecamatan tegal waru yaitu sebanyak 7.945 rumah tangga.

       Dibandingkan dengan kondisi tahun 2003, jumlah rumah tangga petani gurem di tahun 2013 mengalami penurunan. jika pada tahun 2003 petani gurem di purwakarta sebanyak 84.962 rumah tangga,maka pada tahun 2013 berkurang menjadi 56.459 rumah tangga atau turun sebesar 33,55 persen. penurunan jumlah petani gurem terjadi diseluruh kecamatan di kabupaten purwakarta. penurunan terbesar secara absolut terjadi di kecamatan babakancikao yang mencapai 4.708 rumah tangga ditinjau secara persentase penurunan rumah tangga petani gurem terbesar terjadi di kecamatan purwakarta sebesar 77,03 persen.


Tabel 4
Jumlah rumah tangga usaha pertanian gurem menurut kecamatan 
tahun 2003 dan 2013 di kabupaten purwakarta 

























    Hasil sensus pertanian 2013 menunjukan bahwa rata-rata penguasaan lahan yang dikuasai rumah tangga pertanian pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. pada tahun 2003 rata-rata lahan yang dikuasai seluas 1.559,89 m2, sedangkan pada tahun 2013 rata-rata lahan yangn dikuasai seluas 3.752,05 m2, berari meningkat sebesar 140,53 persen. rata-rata penguasaan lahan yang tertinggi adalah kecamatan sukasari seluas 5.877,64 m2, sedangkan yang penguasaan yang terendah adalah kecamatan plered seluas 2.665,72 m2.
      Rata-rata lahan pertanian yang dikuasai rumah tangga usaha pertanian mengalami peningkatan, dari 1.340,72 m2 tahun 2003 meningkat menjadi 3.530,10 m2 pada tahun 2013, atau naik sebesar 163,30 persen. tertinggi rata-rata penguasaan lahan pertanian di kecamatan sukasari seluas 5671,26 m2 tahun 2013, sementara yang terendahnya pada tahun 2013 adlah kecamatan plered yakni seluas 2.455,21 m2. sedangkan rata-rata lahan pertanian lahan sawah tertinggi tahun 2013 adalah kecamatan pasawahan seluas 2.812,57 m2, disusul kecamatan cibatu seluas 2.710,92 sedangkan yang terendah penguasaan lahan pertanian lahan sawah adalah kecamatan maniis seluas 1.239 ,79 m2.


Tabel 5
Rata-rata luas yang dikuasai per rumah tangga usaha pertanian 
Menurut kecamatan dan jenis lahan tahun 2003 dan 2013 (m2)




























       Untuk rata-rata penguasaan lahan bukan lahan sawah tahun 2013 mengalami kenaikan yang sangat signifikan yaitu sebesar 236,15 persen dari tahun 2003. kecamatan yang tertinggi rata-rata penguasaan lahan bukan sawah pada tahun 2013 adalah kecamatana sukasari seluas 3.734,65 m2 sementara kecamtan yang terendah adalah kecamatan plerd sebesar 720,42 m2, disusul oleh kecamatan pasawahan yakni seluas 872,91 m2.
        Selain penguasaaan lahan pertanian,juga ada rata-rata penguasaaan lahan bukan pertanian. sensus pertanian 2013 mencatat bahwa rata-rata penguasaaan lahan bukan pertanian juga mengalami kenaikan sebesar 1,27 persen, tahun 2003 tercatat seluas 219,16 m2 sedangkan pata tahun 2013 seluas 221,95 m2 tahun 2013.
        Berdasarkan kondisi demografi petani menurut jenis kelamin,hasil sesnsus pertanian 2013 menunjukan bahwa di kabupaten purwakarta jumlah seluruh petani sebanyak 85.476 orang, didominasi oleh petani laki-laki yakni sebanyak 67.827 orang (79.35 %), sedangkan jumlah petani perempuan sebanyak 17.649 orang,atau sebesar (20,65 %). kondisi ini berlaku umum untuk komposisi petani di masing-masing subsektor pertanian baik di tanaman pangan, holtikultura, perkebunan,peternakan,perikanan dan kehutanan. persentase jumlah petani laki-laki terbesar berada di subsektor perikanan kegiatan penangkapan ikan yang mencapai 98,27 persen. sementara persentase petani laki-laki paling sedikit berada di subsektor peternakan yang mencapai 75,33 persen.


Tabel 6
Jumlah petani menurut sektor/subsektor dan jenis kelamin tahun 2013 
Di kabupaten purwakarta






















      Sementara itu dari hasil sensus pertanian 2013 juga diketahui bahwa sebanyak 63.860 petani yang bekerja di sektor pertanian berada di subsektor tanaman pangan atau terbesar dari seluruh subsektor pertanian. subsektor lain yang juga banyak menyerap jumlah tenaga kerja berturut-turut adalah subsektor peternakan dan holtikultura dengan jumlah petani yang masing-masing sebesar 41.054 orang dan 35.227 orang.
      

      Dari tabel 5 diketahui bahwa sebanyak 308 rumah tangga usaha pertanian dengan kelompok umur petani utamanya antara 15-24 tahun,sementara jumlah rumah tangga usaha pertanian yang dikelompokan umur petani uatamanya 65 tahun atau lebih sebanyak 11.710 rumah tangga. pada tabel ini juga menunjukan bahwa petani utama purwakarta terbesar berada di kelompok usia 45-54 tahun yakni sebesar 20.863 rumah tangga (28,53 persen) atau dengan kata lain kelompok usia produktif mendominasi kelompok umur di bidang usaha pertanian.


Tabel 7 
Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut kelompok umur dan jenis kelamin petani utama 
Di kabupaten purwakarta tahun 2013























     Rumah tangga usaha pertanian dengan petani utama laki-laki juga terlihat lebih tinggi jumlahnya jika dibandingkan dengan petani utama perempuan.kecenderungan ini terjadi hampir serupa di masing-masing kelompok umur. jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan petani utama lakai-laki tercatat sebesar 66.217 rumah tangga, jauh lebih tinggi dibandingkan petani utama perempuan yang tercatat sebesar 6.898 rumah tangga. persentase jumlah rumah tangga pertanian dengan petani utama laki-laki terbesar berada pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 29,04 persen dan terendah berada pada kelompok umur diatas 15-24 tahun yang mencapai 00,41 persen. sedangkan pada rumah tangga pertanian dengan petani utama perempuan secara persentase terbesar berada pada kelompok umur 65+ tahun (30,66 %) dan terndah berada pada kelompok umur 15-24 tahun (00,52 %).


Grafik 3
Piramida petani utama menurut kelompok umur dan jenis kelamin
Di kabupaten purwakarta tahun 2013


























      Komposisi jumlah petani utama secara keseluruhan terbesar berada pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 28,53 persen,kemudian disusul kelompok umur 35-44 tahun (24,48%) dan kelompok umur 55-64 tahun (22,04%). kelompok umur 15-24 tahun dan 25-34 tahun merupakan dua kelompok umur yang paling sedikit jumlah petani utamanya dengan nilai masing-masing sebesar 00,42 persen dan 8,51 persen.

3. PERUSAHAAN PERTANIAN BERBADAN HUKUM DAN USAHA PERTANIAN LAINNYA

       Ditinjau dari jumlah perusahaan pertanian yang berbadan hukum,hasil sensus pertanian 2013 menunjukan bahwa di kabupaten purwakarta terdapat 26 perusahaan pertanian. jika pada tahun 2003 jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum sebanyak 17 unit maka pada 10 tahun kemudian tumbuh menjadi 26 unit atau dengan kata lain terjadi kenaikan sebesar 9 unit (52,94%). sementara jumlah usaha pertanian lainnya hasil sensus pertanian 2013 sebanyak 7 unit.


Grafik 4
Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum dan usaha pertanian lainnya 
Di kabupaten purwakarta tahun 2013























   4. SAPI DAN KERBAU
     
       Jumlah sapi dan kerbau pada 1 mei 2013 sebanyak 21.698 ekor, terdiri dari 13.414 ekor sapi potong, 21 ekor sapi perah dan 8.263 ekor kerbau. jumlah sapi potong betina lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah sapi potong jantan. hasil sensus pertanian 2013 menunjukan bahwa jumlah sapi potong betina sebanyak 7.973 ekor dan jumlah sapi potong jantan sebanyak 5.441 ekor. sedangkan sapi perah jantan sebanyak 5 ekor lebih rendah dari jumlah sapi perah betina sebanyak 16 ekor. sementara itu populasi kerbau jantan sebanyak 2.572 ekor, juga lebih rendah dibandingkan dengan kerbau betina yang mencapai 5.691 ekor.


Grafik 5
Jumlah sapi potong,sapi perah dan kerbau menurut jenis kelamin tahun 2013



















      Dibandingkan dengan hasil pendataan sapi potong,sapi perah dan kerbau ( PSPK) tahun 2011,pada tahun 2013 ini  terdapat kenaikan jumlah sapi potong dari 10.679 ekor menjadi 13.414 ekor sapi potong. jumlah sapi perah relatif sama, sedangkan jumlah kerbau mengalami penurunan dari 9.470 ekor menjadi sebanyak 8.263 ekor kerbau. 



 Grafik 6
Perbandingan jumlah sapi potong, sapi perah dan kerbau
Menurut hasil ST2013 dan PSPK2011
















     Wilayah dengan jumlah sapi dan kerbau terbanyak adalah kecamatan tegal waru dengan jumlah sapi dan kerbau sebanyak 3.305 ekor sedangkan kecamatan purwakarta adalah wilayah dengan jumlah sapi dan kerbau paling sedikit (363 ekor). jumlah sapi potong terbanyak terdapat di kecamatan darangdan yaitu sebanyak 2.712 ekor, dan jumlah sapi perah terbanyak adalah kecamatan wanayasa,dengan jumlah sapi perah sebanyak 9 ekor. sedangkan jumlah ternak kerbau terbesar berada di kecamatan babakancikao yang berjumlah 1.240 ekor.




Tabel 8
Jumlah sapi dan kerbau pada 1 mei 2013 menurut kecamatan dan jenis kelamin 
Di kabupaten purwakarta






























      Bila dirinci menurut wilayah (tabel 7), tiga wilayah yang memiliki sapi potong paling banyak adalah kecamatan darangdan dengan jumlah populasi sebanyak 2.712 ekor, kemudian kecamatan tegal waru (2.389 ekor), dan kecamatan babakancikao (1.471 ekor). sementara itu,daerah yang memiliki sapi potong paling sedikit adalah kecamatan pondoksalam dengan jumlah populasi sebanyak 94 ekor.

     Sapi perah hanya terdapat di delapan kecamatan,paling banyak terdapat di kecamatan wanayasa dengan jumlah populasi sebanyak 9 ekor.
   
     Kerbau paling banyak terdapat di kecamatan babakancikao dengan jumlah populasi sebanyak 1.240 ekor, kemudian kecamatan pondoksalam (1.114 ekor), dan kecamatan sukatani (1.027 ekor).

5. KONSEP DAN DEFINISI

    Pada kegiatan sensus pertanian 2013, pencacah rumah tangga usaha pertanian dilakukan dengan pendekatan rumah tangga dan status pengelola usaha pertanian rumah tangga yang dicakup sebagai rumah tangga usaha pertanian dalam sensus pertanian 2013 adalah rumah tangga usaha pertanian yang berstatus sebagai mengelola usaha pertanian milik sendiri, mengelola usaha pertanian dengan bagi hasil dan mengelola usaha pertanian dengan menerima upah. disamping itu pada kegiatan ST2013 ini tidak mensyaratkan batas minimal usaha dari setiap komoditi pertanian yang di usahakan oleh rumah tangga namun untuk syarat komoditi pertanian yang dijual masih tetap berlaku dalam ST2013.
     Kegiatan pencacahan sensus pertanian 2003 dilakukan dengan pendekatan rumah tangga dimana setiap rumah tangga usaha pertanian dilakukan pencacahan dilokasi tempat tinggal rumah tangga tersebut berada. kegiatan usaha pertanian yang dilakukan oleh rumah tangga usaha pertanian yang berada diluar wilayah (kecamatan,kabupaten/kota,kabupaten) tempat tinggal rumah tangga tetap di catat sebagai kegiatan usaha pertanian di tempat tinggal dimana rumah tangga tersebut. penentuan suatu rumah tangga sebagai rumah tangga usaha pertanian mengacu pada syarat batas minimal usaha (BMU) dan dijualnya suatu komoditi pertanian. penentuan syarat rumah tangga usaha pertanian ini tidak berlaku untuk kegiatan usaha di subsektor tanaman pangan.

     Usaha pertanian adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi di jual/ditukar atas resiko usaha (bukan buruh tani atau pekerja keluarga) usaha pertanian meliputi usaha tanaman pangan,holtikultura,perkebunan,peternakan,periakanan, dan kehutanan, termasuk jasa pertanian. khusus tanaman pangan(padi dan palawija) meskipun tidak untuk dijual (dikonsumsi sendiri) tetap dicakup sebagai usaha.

    Rumah tangga usaha pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual,baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil,atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian.

    Perusahaan pertanian berbadan hukum adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor usaha pertanian yang bersifat tetap,terus-menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/kota,untuk setiap tahapan kegiatan budidaya pertanian seperti penanaman,pemupukan,pemeliharaan dan pemanenan contoh bentuk badan hukum: PT,CV,Koperasi,yayasan SIP pemda.

     Usaha pertanian lainnya adalah usaha pertanian yang dikelola oleh bukan rumah tangga dan bukan oleh perusahaan pertanian berbadan hukum,seperti: pesantren,seminari,kelompok usaha bersama,tangsi militer,lembaga permasyarakatan,lembaga pendidikan,dan lain-lain yang mengusahakan pertanian.

    Rumah tangga petani gurem adalah rumah tangga pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar. penghitungan jumlah rumah tangga petani gurem berdasarkan jumlah luas lahan yang dikuasai oleh rumah tangga,baik lahan pertanian dan lahan bukan pertanian. rumah tangga pertanian yang hanya melakukan kegiatan budidaya ikan dilaut,budidaya ikan diperairan umum, penangkapan ikan dilaut, pengkapan ikan diperairan umum, pemungutan hasil hutan/penangkapan satwa liar dan jasa pertanian dikategorikan rumah tangga pertanian bukan pengguna lahan.

     Petani utama adalah petani yang mempunyai penghasilan terbesar dari seluruh petani yang ada di rumah tangga usaha pertanian.

     Lahan yang dikuasai adalah lahan milik sendiri ditambah lahan yang berasal dari pihak lain,dikurangi lahan yang berada di pihak lain lahan tersebut dapat berupa lahan sawah dan/atau lahan bukan sawah (lahan pertanian) dan lahan bukan pertanian.

      Rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan adalah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan satu atau lebih kegiatan usaha tanaman padi,palawija,holtikultura,perkebuanan,kehutanan,peternakan, budidaya ikan/biota lain dikolam air tawar/tambak air payau dan penangkaran satwa liar.

      Rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan adalah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan satu atau lebih kegiatan usaha penangkapan ikan di sungai/perairan umum,penangkapan satwa liar di hutan,dan jasa pertanian.

     Rumah tangga usaha jasa pertanian adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan usaha atas dasar balas jasa atau kontrak/secara borongan,seperti melayani usaha dibidang pertanian.

      Rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan produksi hasil pertanian sendiri adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan mengubah bahan baku hasil pertanian sendiri menjadi barang jadi/setengah jadi atau barang yang lebih tinggi nilainya.

      Jumlah sapi dan kerbau adalah jumlah sapi dan kerbau yang dipelihara pada tanggal 1 mei 2013 baik untuk usaha (pengembangbiakan/penggemukan/pembibitan,pemacekan) maupun bukan untuk usaha konsumsi/hobi/angkutan/perdagangan/lainnya.

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP) KABUPATEN PURWAKARTA

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP) KABUPATEN PURWAKARTA

RUMAH TANGGA PETANI TAHUN 2013 SEBANYAK 73.115, TURUN 29,51 PERSEN DARI TAHUN 2003 (103.730)

  • Jumlah rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 sebanyak 73.115 rumah tangga, subsektor tanaman pangan 56.495 rumah tangga, holtikultura 32.796 rumah tangga,perkebunan 21.723 rumah tangga, peternakan 37.052 rumah tangga, perikanan 6.250 rumah tangga,kehutanan 30.594 rumah tangga, dan jasa pertanian 3.091 rumah tangga.
  • Jumlah rumah tangga petani gurem di kabupaten purwakarta tahun 2013 sebanyak 56.459 rumah tangga atau sebesar 77,94 persen dari rumah tangga pertanian pengguana lahan, mengalami penuruna sebanyak 28.503 rumah tangga atau turun 33,55 persen dibandingkan tahun 2003
  • Jumlah petani yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 85.476 orang, terbanyak di subsektor tanaman pangan sebesar 63.860 orang dan terkecil di subsektor perikanan kegiatan penangkapan ikan sebesar 1.042 orang.
  • petani utama purwakarta sebesar 28,53 persen berada di kelompok umur 45-54 tahun.
  • Rata-rata luas lahan yang di kuasai per rumah tangga usah pertanian seluas 3.752,05 m2 terjadi peningkatan sebesar 140,53 persen dibandingkan tahun 2003 yang hanya sebesar 1.559,89 m2
  • Jumlah sapi dan kerbau pada 1 mei 2013 sebanyak 21.698 ekor,terdiri dari 13.414 ekor sapi potong, 21 ekor sapi perah dan 8.263 ekor kerbau.

Jumat, 02 Desember 2011

Hasil Pendataan Sensus Penduduk 2010 di Purwakarta

PENDUDUK KABUPATEN PURWAKARTA TAHUN 2010

Hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010) mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa, yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118.320.256 jiwa (49,79 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119.321.070 jiwa (50,21 persen).

Penduduk laki-laki Indonesia sebanyak 119.630.913 jiwa dan perempuan sebanyak 118.010.413 jiwa. Seks Rasio adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen).
Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa dan perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

Jumlah penduduk Kabupaten Purwakarta sebanyak 852.521 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 458.599 jiwa atau 53,79 persen dan di daerah perdesaan sebanyak 393.922 jiwa atau 46,21 persen.
Penduduk laki-laki Kabupaten Purwakarta sebanyak 436.082 jiwa dan perempuan sebanyak 416.439 jiwa. Seks rasio penduduk Kabupaten Purwakarta adalah 105, berarti terdapat 105 laki-laki untuk setiap 100 perempuan, dimana 51,15 persen penduduk laki-laki dan 48,85 persen penduduk perempuan.

Jumlah penduduk yang aktif secara ekonomi (angkatan kerja) di Kabupaten Purwakarta berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010) adalah 351.864 orang, yang terdiri dari 245.163 laki-laki dan 106.701 perempuan. Dari jumlah tersebut, jumlah yang bekerja adalah 335.802 orang dan penganggur sebesar 16.062 orang. Dengan jumlah penduduk 15 tahun ke atas sebanyak 593.547 jiwa, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Kabupaten Purwakarta adalah 59,41 persen, dimana TPAK laki-laki adalah 81,11 persen dan TPAK perempuan sebesar 36,79 persen.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang menggambarkan persentase penganggur terhadap total angkatan kerja adalah 4,56 persen, dimana TPT laki-laki adalah 3,7 persen, sedangkan TPT perempuan adalah 6,5 persen.

Jumat, 02 April 2010

Sensus Penduduk 2010

Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, Sensus Penduduk merupakan sumber utama data statistik kependudukan yang lengkap dan menyeluruh.
Semenjak kemerdekaan, Indonesia telah melaksanakan lima kali Sensus Penduduk, yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000. Pada tahun 2010, rencananya Badan Pusat Statistik (BPS) kembali akan melaksanakan sensus penduduk yang keenam.
Tujuan SP2010 antara lain :
1. Menyediakan data dasar kependudukan sampai dengan wilayah administrasi yang terkecil,
2. Menyediakan data kependudukan yang lebih rinci dan mendalam untuk perkiraan parameter kependudukan melalui survei kependudukan,
3. Menyediakan data potensi desa di seluruh Indonesia,
4. Menyusun kerangka contoh induk (KCI) yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan sensus atau survei lain sebelum sensus berikutnya serta menyusun Sistem Informasi Geografis.

Sensus Penduduk merupakan kegiatan pengumpulan data mengenai karakteristik (ciri) penduduk Indonesia.
Secara umum Sensus Penduduk dapat disebut sebagai penghitungan atau pendataan seluruh penduduk Indonesia.
Sensus Penduduk tahun 2010 (SP2010) bertujuan untuk mendapatkan data dasar kependudukan berupa jumlah dan karakteristik penduduk seperti: nama, pendidikan, jenis kelamin, kelahiran, kematian, dll.
Hasil SP2010 bermanfaat untuk menyusun statistik kependudukan sampai dengan wilayah administrasi terkecil. Hasil SP2010 juga digunakan untuk menghitung proyeksi penduduk dimasa datang yang sangat dibutuhkan dalam penyusunan rencana dan evaluasi pembangunan.

Apa Tujuan SP2010 ?
1. Terkumpulnya dan tersaji data dasar tentang struktur penduduk hingga tingkat administrasi terkecil (desa/kelurahan).
2. Tersedia data untuk kerangka sampel induk (KSI), kepentingan survei berbasis rumah tangga atau penduduk periode 2010-2020.
3. Tersedia perkiraan berbagai parameter demografi (kelahiran, kematian, migrasi) sampai dengan wilayah administratif tertentu.
4. Tersedia sumber data kependudukan lainnya untuk perencanaan dan evaluasi program maupun analisis.

Kapan pencacahan dilaksanakan ?
Pencacahan akan dilakukan secara serentak mulai tanggal 1 sampai 31 Mei 2010. Pencacahan tuna wisma dan awak kapal berbendera Indonesia secara serentak tanggal 15 Mei 2010.

Dapatkah SP2010 menghasilkan angka sampai tingkat kabupaten/kota ?
Tentu dapat, bahkan direncanakan data tertentu yang akan dihasilkan dapat memberikan gambaaran secara aktual mengenai kondisi demografi, perumahan, pendidikan dan ketenagakerjaan hingga wilayah admonostratif yang paling kecil (desa/kelurahan).

Rabu, 31 Maret 2010

Sensus Penduduk 2010



Sensus Penduduk Tahun 2010

Informasi Umum

Indonesia kini sedang mempersiapkan sensus penduduk modern yang keenam yang akan diselenggarakan pada tahun 2010. Sensus-sensus penduduk sebelumnya diselenggarakan pada tahun-tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000.

Menurut Sensus Penduduk 2000, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 205.1 juta jiwa, menempatkan Indonesia sebagai negara ke-empat terbesar setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Sekitar 121 juta atau 60.1 persen di antaranya tinggal di pulau Jawa, pulau yang paling padat penduduknya dengan tingkat kepadatan 103 jiwa per kilometer per segi. Penduduk Indonesia tahun 2010 diperkirakan sekitar 234.2 juta.

Dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang akan datang diperkirakan akan dicacah penduduk yang bertempat tinggal di sekitar 65 juta rumahtangga. Untuk keperluan pencacahan ini akan dipekerjakan sekitar 600 ribu pencacah yang diharapkan berasal dari wilayah setempat sehingga mengenali wilayah kerjanya secara baik. Pencacah dilatih secara intensif selama tiga hari sebelum diterjunkan ke lapangan.

Dalam SP2010 akan diajukan sekitar 40 pertanyaan mengenai: kondisi dan fasilitas perumahan dan bangunan tempat tinggal, karakteristik rumahtangga dan keterangan individu anggota rumahtangga. Format dan isi daftar pertanyaan atau Kuesioner SP2010 disusun dengan mempertimbangkan rekomendasi PBB yang relevan serta dapat diterapkan di lapangan.

Puncak kegiatan SP2010 berupa kegiatan pencacahan penduduk di semua wilayah geografis Indonesia secara serempak selama bulan Mei 2010 (Bulan Sensus). Pada 31 Mei 2010 akan dilakukan pembaharuan hasil pencacahan secara serempak dengan mencatat kejadian kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk yang terjadi selama Bulan Sensus dan menyisir serta mencatat penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap (homeless).

Tanggal 31 Mei 2010
merupakan Hari Sensus artinya data SP2010 yang dihasilkan merujuk pada hari sensus tersebut. (dikutip dari : www.bps.go.id)

Data SP2010 diharapkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang antara lain mencakup:
1. Memperbaharui data dasar kependudukan sampai ke wilayah unit administrasi terkecil (desa)
2. Mengevaluasi kinerja pencapaian sasaran pembangunan milenium (milenium development goal, mdgs),
3. Menyiapkan basis pengembangan statistik wilayah kecil,
4. Menyiapkan data dasar untuk keperluan proyeksi penduduk setelah tahun 2010,
5. Mengembangkan kerangka sampel untuk keperluan survei-survei selama kurun 2010-2020,
6. Basis pembangunan registrasi penduduk dan pengembangan sistem administrasi kependudukan.

Perbedaan Sensus dan Registrasi Penduduk

Registrasi penduduk meliputi kegiatan pencatatan dan pelaporan data kependudukan yang terdiri dari kelahiran, perkawinan, perpindahan, dan kematian penduduk serta statistik kependudukan lainnya yang dilakukan mulai dari tingkat desa/kelurahan hingga tingkat provinsi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjembatani tersedianya data kependudukan tahunan, karena data kependudukan yang ada hanya dapat diperoleh dari Sensus Penduduk (SP) setiap 10 tahun dan Survei Penduduk Antar Sensus (supas) setiap 5 tahun di antara dua Sensus Penduduk.

Pelaksanaan registrasi penduduk dilakukan oleh aparat pemerintah daerah di setiap provinsi, sedangkan Sensus Penduduk dikoordinir oleh BPS yang dilakukan serempak di seluruh Indonesia. Perbedaan lainnya, konsep yang dipakai di negara kita untuk Sensus Penduduk adalah kombinasi dari konsep de jure dan de facto, sedangkan Registrasi Penduduk menggunakan konsep de jure.

Pendekatan yang digunakan untuk mendefinisikan penduduk adalah konsep tempat tinggal biasa (usual residence). Menurut konsep ini penduduk suatu wilayah adalah mereka yang secara faktual biasanya tinggal di wilayah itu. Sensus penduduk harus mencakup pula penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap. Untuk kelompok penduduk ini digunakan konsep “de facto”; artinya, mereka dianggap sebagai penduduk di suatu wilayah jika mereka “ditemukan” di wilayah itu ketika pencacahan berlangsung
Sensus Penduduk 2010 (SP2010)

Sensus Penduduk di Indonesia biasa dikenal dengan sebutan pencacahan penduduk, yaitu pengumpulan data dan informasi kependudukan yang dilakukan terhadap seluruh penduduk yang tinggal di wilayah geografis Indonesia.

Data yang di kumpulkan antara lain: nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, kewarganegaraan, tempat lahir, dsb.

Cakupan dalam SP2010 adalah seluruh Warga Negara Indonesia : bertempat tinggal tetap, tidak mempunyai tempat tinggal tetap (tuna wisma, pengungsi, awak kapal berbendera Indonesia, masyarakat terpencil/terasing, dan berpenghuni perahu/rumah apung), Anggota Korps Diplomatik Indonesia beserta keluarganya yang berada di luar negeri juga tercakup dalam SP2010.

Direncanakan :

Secara umum tujuan Sensus Penduduk adalah untuk menyediakan data dasar kependudukan yang terkini, baik dari segi jumlah maupun perkiraan parameter-parameter kependudukan.

Sedangkan secara khusus tujuan SP2010 adalah :
1. Terkumpul dan tersaji data dasar tentang struktur penduduk hingga tingkat administrasi terkecil (desa/kelurahan).
2. Tersedia data untuk kerangka sampel induk (KSI), kepentingan survei berbasis rumah tangga atau penduduk periode 2010 - 2020.
3. Tersedia perkiraan berbagai parameter demografi (kelahiraan, kematian, migrasi) sampai dengan wilayah administratif tertentu.
4. Tersedia sumber data kependudukan lainnya untuk perencanaan dan evaluasi program maupun analis.

Angka dari SP2010 akan menghasilkan sampai tingkat kabupaten/kota. Bahkan direncanakan data tertentu yang akan dihasilkan dapat memberikan gambaran secara aktual mengenai kondisi demografi, perumahan, pendidikan dan ketenagakerjaan hingga wilayah administratif yang paling kecil (desa/kelurahan).

Jadi, PASTIKAN ANDA DIHITUNG.

Kamis, 25 Maret 2010

Definisi (1)

Apakah perbedaan antara:
a. Inflasi dan Deflasi
b. Revaluasi dan Devaluasi
c. Apresiasi dan Depresiasi
Nah berikut merupakan pembahasan dari permasalahan diatas
a. Inflasi dan Deflasi
Inflasi adalah menurunnya nilai uang dibandingkan dengan harga barang dan terjadi secara terus menerus
Deflasi adalah suatu keadaan ketika jumlah barang yang beredar melebihi jumlah uang yang beredar sehingga harga barang-barang menjadi turun dan nilai uang menjadi naik.
b. Revaluasi dan Devaluasi
Revaluasi adalah suatu kebijakan dari pemerintah untuk menaikkan kembali nilai mata uang dalam negeri terhadap valuta asing setelah mengalami penurunan.
Devaluasi adalah suatu kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang sendiri terhadap mata uang asing dengan cara sengaja. Tujuannya supaya ekspor meningkat.
c. Apresiasi dan Depresiasi
Apresiasi yaitu meningkatnya nilai mata uang dalam negeri terhadap valuta asing karena mekanisme pasar
Depresiasi yaitu menurunnya nilai mata uang dalam negeri terhadap valuta asing karena mekanisme pasar.

Sekilas

1. Keadaan Geografis

Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Barat yang terletak di antara 107°30’–107°40’ Bujur Timur dan 6°25’–6°45’ Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Purwakarta mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

Bagian Barat dan sebagian wilayah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karawang.

Bagian Utara dan sebagian wilayah bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Subang.

Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Bagian Barat Daya berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.

Luas Wilayah Kabupaten Purwakarta tercatat 971,72 km2 atau sekitar 2,81 persen dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat. Sejak Januari 2001 Kabupaten Purwakarta mempunyai 17 Kecamatan dengan 192 desa/kelurahan. Jarak antar Kecamatan bervariasi, dimana jarak terdekat sepanjang 4 km terdapat antara Kecamatan Sukatani dengan Kecamatan Plered. Sementara jarak terjauh adalah 60 km yang terdapat antara Kecamatan Bojong dengan Kecamatan Sukasari.

Ditinjau dari aspek geografis, letak Kabupaten Purwakarta dapat dibagi atas beberapa wilayah, yaitu Bagian Utara, Barat, Selatan dan Timur. Wilayah Bagian Utara mencakup Kecamatan Campaka, Bungursari, Cibatu, Purwakarta, Babakancikao, Pasawahan, Pondoksalam, Wanayasa dan Kiarapedes dimana sebagian besar wilayahnya terletak pada ketinggian antara 25 – 500 m di atas permukaan laut (dpl). Wilayah Barat meliputi Kecamatan Jatiluhur dan Sukasari dimana bagian yang merupakan permukaan air Danau Ir. H. Juanda mempunyai ketinggian 107 m dpl, sedangkan tanah daratan di sekitarnya berada pada ketinggian sekitar 400 m dpl. Kabupaten Purwakarta Bagian Selatan dan Timur, wilayahnya meliputi Kecamatan Plered, Maniis, Tegalwaru, Sukatani, Darangdan dan Kecamatan Bojong, dengan ketinggian lebih dari 200 m dpl.



2. Curah Hujan

Data curah hujan di Kabupaten Purwakarta diperoleh dari Perusahaan Umum Jasa Tirta II yang melaksanakan pemantauan di 9 Lokasi Stasiun Hujan yang tersebar pada 9 kecamatan. Pada sepanjang tahun 2006, rata-rata curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari, Pebruari, dan Desember, yang masing-masing mencapai 623 mm, 439 mm, dan 552 mm.

Tidak seperti tahun sebelumnya, dari kesembilan lokasi stasiun hujan tersebut dapat diketahui bahwa curah hujan di lokasi stasiun hujan Wanayasa merupakan curah hujan yang tertinggi sepanjang tahun 2006, yaitu sebanyak 3.272 mm. Curah hujan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan angka curah hujan tahun 2005 dan 2004 yang mencapai 5.356 mm dan 3.732 mm. Hari hujan terbanyak tercacat pada lokasi stasiun hujan Cisomang yaitu 145 hari, dimana keadaan tersebut lebih rendah dari keadaan tahun 2005 yang tercatat pada lokasi stasiun hujan Wanayasa yaitu 189 hari.
1. Wilayah Administrasi

Wilayah Kabupaten Purwakarta dari tahun 2006 sampai 2007 tidak mengalami perubahan. Wilayah Kabupaten Purwakarta terdiri atas 17 Kecamatan, sedangkan banyaknya desa/kelurahan sebanyak 183 desa dan 9 kelurahan. Sedangkan jumlah Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) dan Dusun tahun 2006 sebanyak 475 dusun dengan 1.103 RW dan 3.249 RT pada tahun 2006.

Berdasarkan profil desa yang dibuat setiap tahun, desa/kelurahan dapat diklasifikasikan menjadi Desa Swadaya, Swakarya atau Swasembada menurut skor yang diperoleh. Menurut Dinas Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Purwakarta, dari 192 desa/kelurahan, semua desa masuk ke dalam klasifikasi swakarya. Sampai dengan tahun 2006 di Kabupaten Purwakarta belum ada desa maupun kelurahan yang masuk ke dalam klasifikasi swa sembada.



2. Pegawai Negeri

Pada tahun 2007 jumlah pegawai negeri di Kabupaten Purwakarta secara keseluruhan mengalami peningkatan sebesar 14,76 persen jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006. Untuk pegawai otonom terjadi kenaikan sebesar 18,24 persen.

Jika ditelusuri lebih lanjut per golongan pegawai, pegawai negeri Golongan III mempunyai jumlah terbesar yaitu sebanyak 5.414 orang atau mencapai 62,53 persen. Sedangkan pegawai Golongan I hanya merupakan sebagian kecil, yaitu 86 orang atau sekitar 0,99 persen saja. Keadaan ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah untuk senantiasa meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di segala bidang.



3. Pertanahan

Masalah pertanahan masih menjadi persoalan yang banyak terdapat di masyarakat. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuat sertifikat atas tanah yang dimilikinya kadang-kadang menjadi masalah di kemudian hari.

Selama tahun 2007, Kantor Pertanahan Kabupaten Purwakarta telah menyelesaikan 18.799 sertifikat . Jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006, terjadi penambahan target dan realisasi penyelesaian meningkat pada tahun 2007. Pada akhir tahun 2007, sertifikat yang diselesaikan terbanyak adalah permohonan Hak Milik disusul dengan Hak Guna Bangunan. Permohonan sertifikat Hak Milik meningkat sebesar 18,57 persen dan Hak Guna Bangunan turun sebesar 98,96 persen dibandingkan dengan keadaan tahun 2006.

1. Pertanian Tanaman Pangan



a. Padi dan Palawija

Pada tahun 2007 produksi padi di Kabupaten Purwakarta mencapai 226.987 ton Gabah Kering giling (GKG). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan produksi sebesar 11,25 persen bila dibandingkan dengan tahun 2006.

Secara umum, peningkatan tersebut disebabkan meningkatnya luas panen disertai dengan peningkatan produktivitas. Apabila ditelusuri lebih lanjut, padi sawah mengalami peningkatan baik luas panen maupun produktivitasnya sedangkan padi ladang mengalami penurunan luas panen dan peningkatan produktivitas. Secara total pada tahun 2007 luas panen padi meningkat sebesar 3,9 persen dibandingkan tahun 2006. Sementara itu luas kerusakan areal sawah mengalami penurunan sebesar 0,8 persen, terutama yang diserang jasad pengganggu penggerek batang, tungro, tikus dan BLB.

Pada tahun 2007, produksi palawija umumnya mengalami penurunan, yaitu kedelai, kacang tanah, Ubi Kayu dan Ubi Jalar. Penyebab utama dari penurunan tersebut adalah menurunnya luas panen.



b. Sayuran dan Buah-buahan

Kondisi tahun 2007 untuk tanaman sayuran hampir sama dengan palawija, dimana hampir semua produksi tanaman sayur-sayuran mengalami penurunan bila dibandingkan dengan kondisi tahun 2006, kecuali bawang daun, kacang panjang dan terung. Penurunan tersebut sebagian besar terjadi akibat menurunnya luas panen yang disertai dengan penurunan pada produktivitas.

Peningkatan produksi tertinggi terjadi pada tanaman kacang panjang dari 83.792 kuintal pada tahun 2006 menjadi 87.771 kuintal pada tahun 2007 atau naik sebesar 4,7 persen, sedangkan penurunan yang tertinggi terjadi pada Cabe Besar, yaitu dari 18.816 kuintal menjadi 16.153 kuintal atau turun sebesar 14,15 persen.

Sementara itu produksi tanaman buah-buahan tahun 2007 sebagian besar mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006. Adapun tanaman buah-buahan yang produksinya mengalami peningkatan, diantaranya jambu biji, pepaya, manggis, nangka/cimpedak, melinjo, jeruk besar dan jambu air. Peningkatan tertinggi terjadi pada tanaman Manggis yang meningkat sebesar 438,57 persen dari 6.857 kuintal menjadi 36.941 kuintal. Sedangkan penurunan produksi yang tertinggi terjadi pada tanaman durian dari 93.184 kuintal menjadi 60.417 kuintal.



2. Perkebunan

Pembangunan di bidang perkebunan terutama ditujukan untuk meningkatkan mutu dan produksi hasil perkebunan. Dengan demikian, perkebunan akan mempunyai arti penting dalam pengembangan pertanian.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Purwakarta tahun 2006, sebagian besar luas areal dan produksi tanaman perkebunan rakyat mengalami perubahan. Tanaman cengkeh, karet, kelapa, aren, kapolaga, vanili, melinjo, kapok, kemiri, pala, nilam, jahe dan luas areal meningkat diikuti dengan peningkatan produksi, sedangkan tanaman lada dengan meningkatnya luas areal produksinya justru menurun. Tanaman kopi, kunir dan kencur tahun 2006 terjadi penurunan luas areal tetapi produksinya justru meningkat.

Tanaman perkebunan rakyat yang potensial untuk tahun 2006 dalam arti produksinya tinggi adalah teh, kelapa, cengkeh, melinjo dan kunir. Pada tahun 2006 tercacat luas areal tanaman perkebunan teh adalah 4.252,75 hektar, kelapa 1.210,38 hektar, cengkeh 1.342,84 hektar, melinjo 305,67 hektar dan kunir 48,21 hektar. Produksi tertinggi dari komoditi tersebut adalah teh sebanyak 3.205,30 ton, kelapa 552,17 ton, cengkeh 302,87 ton, melinjo 146,95 ton dan kunir 142,84 ton.



3. Kehutanan

Data mengenai kehutanan diperoleh dari PT Perhutani (Persero) Kesatuan Pemangku Hutan Wilayah Purwakarta. Pengamatan terhadap produksi kehutanan tahun 2007 menunjukkan bahwa hasil hutan yang potensial di Kabupaten Purwakarta adalah berupa kayu pertukangan, sedangkan kayu bakar untuk tahun 2007 berproduksi walaupun lebih rendah dibandingkan tahun 2006.

Dari komoditi kayu pertukangan, kayu jati untuk pertukangan merupakan yang paling dominan, terutama di wilayah KPH Sadang. Produksi kayu jati secara total mengalami peningkatan dari 3.375 m3 pada tahun 2006 menjadi 7.270,69 m3 atau naik sebesar 115,40 persen, sedangkan kayu pertukangan jenis kayu rimba mengalami penurunan sebesar 72,01 persen, yaitu dari 3.134 m3 tahun 2006 menjadi 877 m3 pada tahun 2007.



4. Peternakan

Tujuan pembangunan sub sektor Peternakan antara lain berupaya meningkatkan populasi dan produksi ternak beserta hasil-hasilnya dalam rangka perbaikan gizi masyarakat dan juga meningkatkan pendapatan petani ternak. Jenis ternak dan unggas yang diusahakan di Kabupaten Purwakarta antara lain ternak besar (sapi potong, sapi perah, kerbau dan kuda), ternak kecil (domba dan kambing) serta unggas yang terdiri dari ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik.

Dari kelompok ternak besar pada tahun 2007, hampir semua populasi meningkat kecuali sapi potong dan sapi perah. Jika dibandingkan dengan tahun 2006, populasi sapi potong menurun sebesar 8,17 persen, sapi perah 19,04 persen, kerbau naik 4,23 persen dan kuda naik 248,25 persen.

Pada ternak kecil, kenaikan yang terjadi pada domba sebesar 28,81 persen dan kambing sebesar 17,32 persen. Sementara itu pada kelompok unggas hampir semua populasi mengalami peningkatan pada tahun 2007 jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006, kecuali ayam buras yang mengalami penurunan sebesar 33,37.

Ternak yang dipotong pada tahun 2007 mengalami penurunan untuk jenis ternak besar sedangkan untuk ternak kecil terjadi peningkatan. Penurunan tertinggi untuk ternak besar yang dipotong terjadi pada ternak sapi yaitu sebesar 3,62 persen dan peningkatan tertinggi ternak kecil yang dipotong terjadi pada ternak domba sebesar 1,56 persen.

Produksi peternakan selain daging adalah berupa kulit, susu dan telur. Kulit pada umumnya di tahun 2007 mengalami penurunan. Penurunan produksi kulit yang tertinggi terdapat pada kulit kebau sebesar 88,54 persen dan kulit kambing sebesar 43,97 persen, sedangkan kulit sapi mengalami penurunan sebesar 3,6 persen dan kulit domba mengalami kenaikan sebesar 1,56 persen.

Pada tahun 2007 produksi susu mengalami penurunan sebesar 29,16 persen jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006. Produksi telur mengalami penurunan, baik telur ayam buras maupun telur itik. Apabila dibandingkan dengan tahun 2006 penurunannya berturut-turut adalah sebagai berikut : telur ayam buras 8,78 persen dan telur itik 1,20 persen.



5. Perikanan

Pembangunan Sub sektor Perikanan di Kabupaten Purwakarta belum dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan, keadaan ini terutama setelah terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 yang mengakibatkan harga pakan ikan semakin mahal begitu pula ongkos produksi lainnya sehingga produksi ikan semakin terpuruk disamping gangguan alam lainnya. Namun demikian, berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta, secara umum total produksi ikan tahun 2006 di Kabupaten Purwakarta mengalami peningkatan sebesar 11,58 persen dari 61.655,6 ton pada tahun 2007 menjadi 68.799,03 ton.

Jika ditelusuri lebih lanjut yang mengalami peningkatan produksi adalah ikan dari jari apung , air tenang, air deras dan perairan umum. Sedangkan ikan dari sawah mengalami penurunan. Peningkatan tertinggi terjadi pada produksi ikan yang dihasilkan dari jaring apung yaitu sebesar 11,54 persen, sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada produksi ikan dari sawah yaitu sebesar 17,26 persen.



6. Pertanian Lainnya

Banyaknya rumahtangga pertanian di Kabupaten Purwakarta hasil Sensus Pertanian 2003 adalah sekira 36,27 persen, yaitu 72.678 rumahtangga dari 200.392 rumahtangga. Dari 72.678 rumahtangga, sebesar 97,72 persen merupakan rumahtangga pertanian pengguna lahan dan sisanya 2,28 persen merupakan rumahtangga pertanian bukan pengguna lahan.

Petani yang mengusai lahan kurang dari 0,05 hektar (petani gurem) menurut hasil Sensus Pertanian tahun 2003 sebanyak 54.051 rumahtangga atau sekira 76,10 persen dari rumahtangga pertanian pengguna lahan.

1. Penduduk

Dalam suatu proses pembangunan, pelaku utama yang mengendalikan dan menentukan berhasil tidaknya suatu pembangunan adalah penduduk yang ada di wilayah tersebut. Karena pentingnya peran serta penduduk maka berbagai upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) maka dalam jajaran isu penting yang perlu diterapkan dalam rencana pembangunan jangka panjang.

Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 memberikan gambaran bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun (1990 – 2000), rata-rata laju pertumbuhan Penduduk Kabupaten Purwakarta adalah 2,28 persen per tahun. Berdasarkan hal tersebut, maka penduduk Kabupaten Purwakarta Tahun 2007 diproyeksikan menjadi 815.049 orang, terdiri dari 406.285 orang laki-laki dan 408.764 orang perempuan. Dilihat dari Komposisi Umur, ada sebanyak 26,96 persen penduduk berusia 0-14 tahun. Sedangkan penduduk usia 15-64 tahun mempunyai komposisi terbanyak yaitu 68,70 persen, dan sisanya 4,34 persen adalah penduduk usia 65 tahun ke atas.

Secara umum sex ratio tahun 2007 adalah 99,81 yang berarti bahwa di antara 100 orang perempuan terdapat 99 sampai 100 orang laki-laki. Beberapa kecamatan juga mempunyai sex ratio di bawah 100, hal ini menandakan bahwa penduduk perempuan lebih banyak daripada penduduk laki-laki. Keadaan ini terjadi di Kecamatan Jatiluhur, Maniis, Purwakarta ,Campaka dan Bungursari.

Kabupaten Purwakarta dengan luas wilayah sebesar 971,72 Km2 mempunyai tingkat kepadatan penduduk 839 orang per Km2, meningkat 2,19 persen dibandingkan tahun 2006. Kecamatan Purwakarta masih merupakan kecamatan yang memiliki

kepadatan tertinggi dengan 5.989 orang per Km2, sedangkan Kecamatan Sukasari mempunyai kepadatan penduduk terendah yaitu 161 orang per Km2.

Jumlah rumah tangga tahun 2007 mencapai 216.732 rumah tangga. Tertinggi berada di wilayah Kecamatan Purwakarta, yaitu 40.727 rumah tangga, Kecamatan Plered sebesar 17.131 rumahtangga dan ketiga terbesar adalah Kecamatan Darangdan sebesar 15.765 rumahtangga.

Sebagian besar penduduk Kabupaten Purwakarta (18,25 persen) tinggal di Kecamatan Purwakarta. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Purwakarta merupakan pusat kota dan pusat pemerintahan yang mempunyai banyak fasilitas-fasilitas yang diburtuhkan masyarakat.



2. Ketenagakerjaan

Ketenagakerjaan merupakan salah satu aspek penting, tidak hanya untuk mencapai kepuasan individu, tetapi juga untuk memenuhi perekonomian rumah tangga dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pada suatu masyarakat, sebagian besar dari mereka utamanya telah memasuki usia kerja.

Masalah ketenagakerjaan merupakan hal umum yang ditemui di negara berkembang. Ketimpangan (gap) antara lapangan pekerjaan yang tersedia (demand) dengan penawaran (supply) tenaga kerja dari tahun ke tahun selalu menjadi kendala dalam pembangunan baik dalam skala regional maupun nasional. Ketidakseimbangan ini bukan semata-mata terjadi pada besarnya jumlah pencari kerja, tetapi dapat lebih spesifik lagi, yaitu jenis pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan tingkat pendidikan atau keahlian pencari kerja.

Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purwakarta dapat diketahui bahwa pada tahun 2007 ada sebanyak 30.227 orang pencari kerja, 75,35 persen diantaranya adalah perempuan. Dari jumlah tersebut, 47,77 persen pencari kerja perempuan mempunyai tingkat pendidikan SMU dan sederajat. Sementara pencari kerja laki-laki yang mempunyai tingkat pendidikan SMU dan sederajat berjumlah 5.255 orang. Secara total, sebagian besar pencari kerja mempunyai pendidikan SLTA, yaitu sebanyak 53,38 persen. Selanjutnya, pada tahun 2007 penempatan lowongan kerja terbesar diisi oleh perempuan yang berpendidikan SLTA/sederajat, yaitu mencapai 44,78 persen.

1. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subyek sekaligus obyek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Mengingat pendidikan sangat berperan sebagai faktor kunci dalam meningkatkan sumber daya manusia, maka pembangunan di bidang pendidikan meliputi pendidikan formal maupun non formal. Titik berat pendidikan formal adalah peningkatan mutu pendidikan dan perluasan pendidikan dasar. Selain itu ditingkatkan pula kesempatan belajar pada jenjang pendidikan berikutnya.

Program pendidikan tidak mungkin akan berjalan dengan baik tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai. Pada tahun 2007 di Kabupaten Purwakarta terdapat 630 sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU), baik negeri maupun swasta dengan jumlah murid 159.668 orang. Rasio murid terhadap guru pada tingkat SD adalah 21,. Kemudian rasio murid dan guru pada tingkat SLTP adalah 25, SMU 18 dan SMK adalah 29.

Jika dilihat secara umum, keadaan tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006 terlihat jumlah sekolah meningkat sebesar 2,10 persen dan jumlah murid meningkat sebesar 1,43 persen. Sedangkan jumlah guru meningkat menjadi 4,92 persen.

Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa penyediaan sarana kelas dan guru sudah cukup baik, yang harus dikembangkan adalah kualitas guru maupun prasarana sekolah agar dapat menjamin mutu pendidikan yang lebih baik. Yang juga harus diperhatikan oleh pemerintah adalah distribusi sekolah yang kurang merata antar wilayah kecamatan. Hal ini yang menyebabkan adanya kesenjangan tingkat pendidikan terutama antara kota dan desa.



2. Kesehatan

Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat meningkat. Hal ini dapat terjadi apabila mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat yang merata dapat ditingkatkan serta kesadaran dan perilaku hidup sehat di kalangan masyarkat pun dikembangkan.

Dewasa ini sebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Purwakarta masih jauh dari mencukupi. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, terdapat 3 Rumah Sakit Umum, 14 Rumah Bersalin, 19 Puskesmas, 46 Puskesmas Pembantu, dan 37 Apotek. Keadaan ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Jumlah Tenaga paramedis yang terdiri dari Perawat kesehatan, dan Perawat Gigi jumlahnya mengalami peningkatan. Begitu juga untuk Bidan PNS dan Bidan PTT mengalami peningkatan. Sedangkan paramedis lainnya yang terdiri dari ahli gizi mengalami kenaikan, sedangkan ahli sanitasi, dan asisten apoteker tidak mengalami peningkatan. Sedangkan Apoter tidak mengalami kenaikan dari 4 orang tahun 2006 tetap menjadi 4 orang tahun 2007.

Keberadaan fasilitas kesehatan tidak akan berjalan baik jika tidak ditunjang jumlah tenaga medis yang mencukupi. Berdasarkan data yang ada, pada tahun 2007 jumlah Dokter umum ada sebanyak 83 orang, Dokter Gigi 27 orang, dan Dokter Spesialis 17 orang.

Imunisasi merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Pada tahun 2007 di Kabupaten Purwakarta, terdapat 19.203 balita yang telah mendapat imunisasi BCG, 17.3918.9240 balita mendapat imunisasi DPT.1, 17.392 balita mendapat imunisasi Polio 3 dan untuk imunisasi Campak ada sebanyak 18.131 balita.

Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk melihat derajat kesehatan suatu wilayah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan pada tahun 2007 terdapat kematian neonatal sebanyak 71 kasus dan kematian bayi ada 15 kasus. Sedangkan untuk kematian ibu maternal ada sebanyak 25 kasus yang kebanyakan disebabkan karena persalinan.

Data tahun 2007 menunjukan Balita dengan status gizi buruk ada sebanyak 448 balita, gizi kurang 7.172 balita, gizi baik ada 62.225 balita dan gizi lebih ada sebanyak 1.390 balita.

Derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yang meliputi sarana air bersih, jamban keluarga, sarana pembuangan air limbah, dan juga kualitas perumahan. Tahun 2007, 117.329 keluarga telah menggunakan sarana air bersih (SAB), dan 73.474 mempunyai jamban keluarga. Sedangkan untuk SPAL ada sebanyak 69.244 keluarga dan 53.517 keluarga sudah menggunakan rumah sehat.

Pemanfaatan fasilitas kesehatan digambarkan dengan banyaknya pasien yang berobat, baik rawap inap maupun rawat jalan di RSUD Bayu Asih. Dibandingkan dengan tahun 2006, pasien dewasa yang menjalani rawat jalan mengalami penurunan sebesar 57,16 persen, sedangkan pasien anak-anak juga mengalami penurunan sebesar 18,98 persen. Sementara itu pasien dewasa yang melakukan rawat inap menurun sebesar 41,60 persen dan pasien anak-anak meningkat sebesar 187,03 persen. Dari pasien yang dirawat ada sebanyak 582 orang yang meninggal, dan sekitar 26,29 persen adalah anak-anak.



3. Keluarga Berencana

Pencapaian target peserta KB aktif Tahun 2006 menggambarkan partisipasi masyarakat dalam mengikuti program Keluarga Berencana cukup baik. Hal ini dapat dilihat melalui target yang dapat dicapai hingga 98,25 persen. Seperti halnya pada tahun lalu, suntik masih merupakan cara KB yang paling banyak dipilih oleh akseptor. Berikut ini adalah cara KB yang dilaksanakan oleh penduduk Kabupaten Purwakarta, Cara suntik sebanyak 50,05 persen, Pil sebanyak 34,06 persen, IUD atau spiral sebanyak 7,25 persen, Susuk atau Implant sebanyak 4,86 persen, MOP sebanyak 1,67 persen, MOW sebanyak 1,86 persen dan sisanya menggunakan alat KB lainnya.

Sementara itu banyaknya PLKB sama dengan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk jumlah Klinik Kb mengalami penurunan sekitar 7,23 persen dan Pos KB Desa tidak mengalami perubahan dibandingkan keadaan tahun 2005.



4. Peradilan

Pengadilan Negeri Kabupaten Purwakarta menangani berbagai masalah baik pidana maupun perdata, namun yang dicakup disini hanya kasus pidana yang erat kaitannya dengan kriminalitas atau pelanggaran. Jumlah kasus yang diselesaikan pada tahun 2006 sebanyak 304 perkara yang semuanya merupakan Tolakan, dengan terdakwa sebanyak 360 orang. Dari jumlah terdakwa itu 339 orang menerima putusan sidang, sedangkan 18 orang lainnya menyatakan banding.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2005, keadaan tahun 2006 jumlah perkara yang diselesaikan meningkat sebesar 2,70 persen dengan jumlah terdakwa menurun sebesar 7,92 persen.



5. Agama

Pelayanan kehidupan umat beragama senantiasa ditingkatkan untuk membina kerukunan umat beragama dan mengatasi berbagai masalah sosial yang dapat menghambat kemajuan bangsa. Berbagai informasi dari beberapa kantor yang berkaitan langsung dengan masalah keagamaan ditampilkan disini.

Menurut Kantor Departemen Agama, persentase pemeluk agama Islam tahun 2006 sebanyak 98,98 persen, sementara pemeluk agama Kristen Katolik 0,21 persen, Kristen Protestan 0,73 persen, Hindu 0,02 persen dan Budha 0,06 persen. Jumlah sarana peribadatan yang ada adalah 846 masjid 1.046 surau, 12 Gereja, 1 pura, dan 3 Vihara. Sedangkan banyaknya pondok pesantren, santri, dan guru/kyai mengalami peningkatan yaitu masing-masing menjadi 210 pondok pesantren dan 22.822 santri, dan 981 guru/kyai

Sekolah yang dikelola oleh Departemen Agama atau yang dikenal dengan nama Madrasah pada tahun 2006 ada sebanyak 29 Madrasah Ibtidaiyah, 34 Madrasah Tsanawiyah, dan 16 Madrasah Aliyah.

Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu rukun islam yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang mampu. Pada tahun 2006 jemaah haji yang diberangkatkan dari Kabupaten Purwakarta tercatat sebanyak 657 orang, meningkat sebesar 19,45 persen dibandingkan dengan tahun 2005 yang berjumlah 550 orang. Kisaran usia yang terbesar adalah antara 40 sampai dengan 49 tahun sebesar 26,79 persen. Dari jumlah tersebut sebagian besar berasal dari Kecamatan Purwakarta yaitu mencapai 30,33 persen.



6. Sosial Lainnya

Kegiatan yang dilaporkan Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam upaya mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah dapat melalui pelayanan informasi dan penyebaran informasi. Pelayanan informasi tahun 2006 diantaranya melalui siaran pers 151 kali dan pelayanan website (purwakarta.go.id) sebanyak 214.623 pengunjung. Sedangkan penyebaran informasi selama tahun 2006 diantaranya melalui forum dialogis/radio 94 kali dan publikasi keliling 60 kali.

Hal lain yang tercakup dalam kegiatan sosial lainnya adalah Gerakan Pramuka yang mempunyai tujuan membentuk generasi muda yang kreatif dan terampil. Pada tahun 2007 jumlah Gugus Depan 1.188 Gudep. Jumlah anak didik sebanyak 269.270 orang.

1. Penggalian

Perusahaan penggalian yang terdaftar di Dinas Pertambangan dan Energi Purwakarta sampai tahun 2007 jumlahnya bertambah jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006 yaitu sebanyak 29 unit. Pada tahun 2007 terdapat empat kegiatan penggalian, yaitu penggalian atras sebanyak enam perusahaan, penggalian pasir dengan jumlah sebanyak lima perusahaan, penggalian batu gunung dengan jumlah populasi 12 unit perusahaan dan penggalian tanah liat sebanyak enam perusahaan.

Pada kenyataannya, jumlah kegiatan penggalian golongan C di lapangan jauh lebih banyak terutama yang dilaksanakan oleh perorangan, tetapi belum seluruhnya mendaftarkan kegiatannya di Kantor Pertambangan dan Energi. Hal lain yang menyebabkan rendahnya angka perusahaan penggalian di Kabupaten Purwakarta adalah terintegrasinya kegiatan penggalian dengan industri pengolahan, seperti yang terjadi pada industri bahan bangunan bata merah, genteng ataupun industri keramik untuk hiasan dan rumahtangga.

Pada tahun 2007 terdapat lima jenis hasil tambang yaitu andesit, atras, batu olahan, pasir dan tanah merah. Andesit merupakan hasil tambang yang terbesar dengan jumlah produksi sebesar 161.675,00 m³ dan yang terkecil adalah tanah merah dengan jumlah produksi sebesar 32.500,00 m³.



2. Industri Pengolahan

Pada tahun 2007 perusahaan industri pengolahan yang termasuk kategori perusahaan industri Besar / Sedang berjumlah sekitar 176 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja 51.101 orang. Secara populasi maupun jumlah tenaga kerja mengalami penurunan jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2006, dimana jumlah perusahaan mengalami penurunan sebesar 8,8 persen diiringi dengan penurunan jumlah tenaga kerja sebesar 13,28 persen.

Industri Besar/Sedang di Kabupaten Purwakarta tersebar pada 14 Kecamatan dan terkonsentrasi pada sentra-sentra industri, seperti Kecamatan Tegalwaru dan Plered serta kawasan industri Kota Bukit Indah di Kecamatan Bungursari. Kecamatan Plered dan Tegalwaru merupakan sentra industri dimana sebagian besar industrinya tergolong ke dalam kategori Industri Sedang dengan jumlah tenaga kerja antara 20 hingga 99 orang. Sementara itu di Kecamatan Bungursari dan Jatiluhur sebagian besar adalah Industri Besar dengan tenaga kerga 100 orang atau lebih.

Data industri kecil tahun 2007 yang diperoleh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Purwakarta memperlihatkan pada sektor formal terjadi peningkatan baik unit usaha maupun nilai produksi, begitu juga pada sektor non formal. Dibandingkan dengan tahun 2007, pada sektor formal terjadi peningkatan jumlah unit usaha sebesar 1,12 persen, jumlah tenaga kerja meningkat 0,83 persen, nilai investasi meningkat 1,74 persen dan nilai produksi meningkat 0,24 persen. Sedangkan pada sektor non formal jumlah unit usaha terjadi peningkatan sebesar 0,83 persen, jumlah tenaga kerja meningkat sebesar 0,30 persen, nilai investasi turun 0,37 persen dan nilai produksi turun sebesar 0,02 persen.



3. Listrik dan Air Bersih

Sesuai dengan bertambahnya jumlah rumahtangga dan kegiatan perekonomian di Kabupaten Purwakarta, pelanggan dan pemakainan listrik juga mengalami peningkatan. Tahun 2006, pelanggan listrik PLN tercatat sebanyak 138.807 pelanggan dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 146.912 pelanggan. Demikian juga dengan kapasitas terpasang mengalami peningkatan dari 324.616 KVA menjadi 335.553 KVA.

Pelanggan listrik yang terbanyak pada tahun 2007 adalah kategori rumah tangga sebanyak 139.525 pelanggan, sedangkan pemakaian listrik terbanyak adalah industri sebanyak 790.589 MWH.

Keadaan yang berbeda terjadi pada air bersih yang disalurkan melalui PDAM. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, keadaan pada tahun 2007 menunjukkan peningkatan untuk jumlah pelanggan sedangkan banyaknya air minum yang disalurkan mengalami penurunan. Banyaknya pelanggan pada tahun 2006 sebanyak 17.665 unit meningkat menjadi 18.542 unit pada tahun 2007. Sementara jumlah air bersih yang disalurkan mengalami penurunan dari 7.252.164 m3 menjadi 7.051.661 m3, nilai produksi mengalami peningkatan dari sekitar 11,2 milyar rupiah menjadi 11,4 milyar rupiah.

PERDAGANGAN



Letak strategis Kabupaten Purwakarta telah memberikan andil terhadap kegiatan perdagangan. Sektor Perdagangan merupakan salah satu andalan perekonomian Kabupaten Purwakarta, hal ini tercermin dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) yang ditopang oleh sektor ini lebih dari 25 persen. Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Purwakarta dari 803 unit perusahaan yang mendaftarkan usahanya pada tahun 2007, sebanyak 470 unit di antaranya berbentuk perusahaan perorangan. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari perusahaan baru dan perusahaan lama yang memperpanjang izin kegiatan karena habis masa berlakunya. Dibandingkan dengan tahun 2006, secara keseluruhan perusahaan yang melakukan pendaftaran mengalami penurunan sebesar 17,81 persen. Penurunan yang cukup besar terjadi pada koperasi dengan penurunan sebesar 31,08 persen dan perorangan sebesar 19,10 persen.

Kegiatan ekspor non migas yang merupakan salah satu andalan dalam mendatangkan devisa Negara, tahun ini mengalami peningkatan dari $188.971.936,48 US pada tahun 2005 menjadi $89.763.808,54. Nilai ekspor tertinggi tahun 2007 didapat dari Serat Rayon yang mempunyai volume ekspor sebanyak 19.479.215,81 Kg dengan nilai produksi $60.080.255,21 US. Urutan kedua diperoleh dari Hino Vechiles dengan nilai produksinya mencapai $10.000.138,79 US. Diharapkan ekspor ini dapat dilaksanakan bukan saja oleh perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang banyak terdapat di Kabupaten Purwakarta.

1. Perhubungan

Untuk memperlancar distribusi barang/jasa dari satu daerah ke daerah lainnya di Kabupaten Purwakarta serta mempermudah mobilitas penduduk perlu didukung oleh sarana dan prasarana jalan yang cukup memadai karena jalan merupakan salah satu prasarana pengangkutan yang cukup penting.

Panjang jalan di Kabupaten Purwakarta menurut data yang tercatat pada Dinas Bina Marga Kabupaten Purwakarta tahun 2006 seluruhnya adalah 814.284 Km yang terdiri dari 4,95 persen Jalan Negara, 7,81 persen Jalan Propinsi, 87,23 persen Jalan Kabupaten. Untuk Jalan Kabupaten, dibandingkan dengan tahun lalu terlihat adanya peningkatan jalan sepanjang 22,584 Km.

Dilihat dari jenis permukaannya, panjang jalan kabupaten terdiri dari 77,25 persen sudah diaspal, 19,94 persen jalan kerikil dan 2,53 persen masih jalan tanah. Pada akhir tahun 2006 jalan yang rusak mencapai 33,80 persen. Sedangkan jalan yang kondisinya sedang 39,89 persen dan jalan dengan kondisi baik mencapai 26,30 persen. Dengan melihat data tersebut diharapkan menjadi perhatian khusus, terutama untuk menanggulangi keadaan jalan yang kondisinya rusak dan rusak berat agar tidak mengganggu dan menghambat lancarnya arus barang dan jasa di Kabupaten Purwakarta khususnya.

Apabila dirinci menurut kelas jalan, keadaan akhir tahun 2006 hanya terdapat dua kelas yaitu kelas III/IIIC sebesar 100 persen.

Data dari Kantor Samsat Cabang Purwakarta menunjukkan bahwa kendaraan bermotor yang terdaftar pada tahun 2007 ada sebanyak 106.221 buah. Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya, atau mengalami peningkatan sekitar 19,12 persen. Dari jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar terdapat 1,44 persen kendaraan non obyek dan sisanya 98,56 persen adalah kendaraan obyek. Kendaraan bermotor yang terdaftar tersebut sebagian besar adalah jenis sepeda motor (89,39 persen), sedangkan yang paling sedikit jumlahnya adalah kendaraan jeep (0,33 persen) dan sisanya adalah jenis kendaraan sedan, minibus, bus dan truck/pick up. Sementara itu jumlah kendaraan yang melaksanakan Uji di Dinas Perhubungan tahun 2006 secara total menunjukkan penurunan 5,05 persen dibandingkan tahun 2005.

Banyaknya angkutan kota dan angkutan perdesaan yang tercatat di Dinas Perhubungan Kabupaten Purwakarta tahun 2006 adalah 1.262 buah. Angka tersebut merupakan hasil peningkatan sebesar 0,80 persen dari 1.252 buah pada tahun 2005.

Kereta Api merupakan salah satu pilihan angkutan di Kabupaten Purwakarta. Dalam operasionalnya angkutan ini melalui tujuh stasiun yang terletak di enam Kecamatan yaitu Stasiun Cibungur di Kecamatan Campaka, Stasiun Sadang dan Purwakarta di Kecamatan Purwakarta, Stasiun Ciganea di Kecamatan Jatiluhur, Stasiun Sukatani di Kecamatan Sukatani, Stasiun Plered di Kecamatan Plered dan Stasiun Cisomang di Kecamatan Darangdan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, total penumpang yang menggunakan kereta api mengalami kenaikan sebesar 11,61 persen, sedangkan jumlah muatan barang mengalami peningkatan sebesar 11,61 persen.



2. Hotel dan Pariwisata

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Purwakarta, seperti halnya tahun lalu Sektor Pariwisata belum berkembang secara optimal. Jumlah hotel dan akomodasi lainnya yang menunjang Sektor Pariwisata di tahun 2007 sebanyak 16 buah. Hotel-hotel tersebut tersebar di Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Jatiluhur, Pasawahan dan Darangdan. Usaha restoran jumlahnya menjadi 10 buah. Sedangkan rumah makan mengalami peningkatan sebesar 17,77 persen dibandingkan tahun sebelumnya dari 45 buah menjadi 53 buah.

Sementara itu berdasarkan data yang dikumpulkan melalui Survei Hotel tahun 2007, secara total terjadi peningkatan jumlah kamar dari 479 pada tahun 2006 menjadi 481 unit di tahun 2007, sebaliknya jumlah tempat tidur tidak mengalami kenaikan. Data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Purwakarta menunjukkan bahwa terdapat 17 taman yang ada di Purwakarta. Dengan Luas Taman 71.037 M2. Purwakarta juga mempunyai 1 ruang terbuka hijau dengan luas 3.374 M2.



3. Komunikasi

Data yang menyangkut masalah komunikasi tidak terlepas dari peran PT. Pos Indonesia (Persero), Tbk. dan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. yang mengelola pengiriman dan penerimaan surat, paket dan wesel pos maupun melayani fasilitas komunikasi lainnya.

Komunikasi jarak jauh secara langsung dapat dilakukan melalui percakapan telepon. Saat ini di Kabupaten Purwakarta terdapat 26.629 satuan sambungan telepon yang terdiri dari 25.387 pelanggan (subscriber) dan 1.242 sambungan telepon untuk umum (public phone). Telepon umum diklasifikasikan ke dalam telepon umum koin, telepon umum kartu (TUK), warung telekomunikasi (wartel) dan kartu panggil (calling card). Dibandingkan dengan tahun 2006, satuan sambungan telepon menurun sebesar 1,06 persen.

Keadaan tahun 2007 hampier semua STO mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2006. STO Bojong dan Plered mengalami penurunan yang terbesar masing-masing 12,83 persen dan 6,00 persen, selanjutnya STO Cibungur sebesar 0,58 persen sedangkan STO Purwakarta naik sebesar 0,004 persen.

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Purwakarta tahun 2006 adalah sebesar Rp. 494,59 milyar rupiah yang bersumber dari Bagian Pendapatan Asli Daerah Rp. 51,39 milyar rupiah, Dana Perimbangan Rp. 443,19 milyar. Sumber dana APBD yang terbesar berasal dari Dana Perimbangan yang mencapai 89,61 persen.

Bila dilihat dari sisi pengeluaran, dapat diketahui bahwa anggaran terbesar terdapat pada pengeluaran untuk Pelayanan Publik yaitu mencapai Rp. 336,56 milyar atau sekitar 66,12 persen dari jumlah pengeluaran secara keseluruhan. Sementara bila ditelusuri lebih lanjut, pada Pelayanan Publik tersebut pengeluaran yang terbesar berada pada rincinan Belanja Administrasi Umum sebesar Rp. 190,75 milyar atau sekitar 37,47 persen dari keseluruhan pengeluaran.



2. Lembaga Keuangan

Dewasa ini peran serta lembaga keuangan di dalam menghimpun dana dan membiayai perkembangan dunia usaha dirasakan sangat penting sebagai upaya dalam mengembangkan alternatif sumber dana investasi. Di Indonesia, lembaga keuangan meliputi : Bank, Perusahaan Pembiayaan, Lembaga Pasar Modal, Dana Pensiun, Pegadaian, Pedagang Valuta Asing, Asuransi serta Koperasi.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia Bandung tahun 2006, terlihat bahwa jumlah dana simpanan rupiah dan valuta asing pada Bank Umum di Kabupaten Purwakarta setiap bulan menunjukan kecenderungan terus meningkat terutama untuk mata uang rupiah. Demikian pula halnya dengan kredit perbankan dan kredit usaha kecil pada Bank Umum juga mengalami peningkatan.

Data dari Perum Pegadaian Kabupaten Purwakarta juga menunjukkan hal yang sama. Jumlah kredit yang diberikan oleh Perum Pegadaian nilainya terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2004 nilai kredit adalah sebesar 21,4 milyar rupiah, meningkat pada tahun 2005 menjadi 26,9 milyar rupiah dan pada tahun 2006 naik kembali menjadi 35,1 milyar rupiah.

Jumlah koperasi di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2006 tercacat 653 buah, sedangkan anggotanya sebanyak 84.579 orang. Jumlah asset tahun 2006 sebesar Rp 59,262 milyar dengan omset sebesar Rp. 90,513 milyar.



3. Harga

Dalam perekonomian faktor harga sangat menentukan, baik di dunia bisnis maupun konsumen. Di dunia bisnis, harga akan mempengaruhi struktur biaya dan keuntungan. Berbeda dengan konsumen, harga akan mempengeruhi daya beli masyarakat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi penting yang dapat memberikan informasi mengenai perkembangan harga barang dan jasa (komoditas) yang dibayar oleh konsumen atau masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang dan jasa (fixed basket) yang secara umum dikonsumsi oleh masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan harga (inflasi) atau tingkat penurunan harga (deflasi) barang dan jasa kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Di Kabupaten Purwakarta, pencatatan harga konsumen dilakukan di Pasar yang berlokasi di Kecamatan Purwakarta. Indeks yang terbentuk selama tahun 2006 (year on year) mencapai 6,15 persen.

Bila diamati secara periodik bulanan, terdapat bulan-bulan yang mengalami deflasi yaitu bulan Maret, dan April, sedangkan pada sepuluh bulan lainnya terjadi inflasi. Point tertinggi inflasi dicapai pada bulan Januari 2006 sebesar 1,40 persen. Sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Maret tahun 2006 yaitu sebesar -0,01 persen.

Pada tingkat harga, rata-rata harga sembilan bahan pokok hampir semuanya mengalami kenaikan. Untuk kelompok sayur mayur, sebagian besar mengalami kenaikan harga, sedangkan yang mengalami penurunan harga adalah Sawi Hijau, Kol Putih, ketimun, Tomat Sayur, dan Labu Siam. Untuk kelompok umbi-umbian dan buah-buahan semuanya mengalami kenaikan harga. Sedangkan untuk rata-rata harga produksi padian-padian (IR 64) yang diterima petani sepanjang tahun 2006 mengalami kenaikan harga. Begitu juga untuk produkis palawija, pada tahun 2006 rata-rata harga untuk ketela pohon dan ketela rambat mengalami kenaikan harga.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disajikan menurut atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku mencerminkan nilai PDRB yang dipengaruhi oleh kenaikan harga dan produksi, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan hanya dipengaruhi oleh kenaikan produksi. PDRB atas dasar harga konstan menggunakan tahun dasar 2000. Perkembangan PDRB Kabupaten Purwakarta periode tahun 2000-2007 terdapat penyempurnaan angka di beberapa sub sektor.

Perkembangan perekonomian Kabupaten Purwakarta pada tahun 2007 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan struktur yang tidak mengalami banyak perubahan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau total nilai tambah bruto (NTB) yang dihitung atas dasar harga berlaku di Kabupaten Purwakarta mencapai Rp. 11,27 trilyun, atau mengalami peningkatan sebesar 16,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp. 9,69 trilyun. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 mengalami peningkatan sebesar 3,90 persen, yaitu dari Rp. 5,96 trilyun tahun 2006 naik menjadi Rp. 6,19 trilyun pada tahun 2007.

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator makro yang sering digunakan sebagai salah satu alat strategi kebijakan bidang ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi salah satu indikator yang sangat penting untuk selalu dievaluasi.

Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kabupaten Purwakarta diukur berdasarkan perkembangan PDRB atas dasar harga konstan 2000. Meningkatnya PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang bergerak naik. Secara umum, pada tahun 2007 perekonomian Kabupaten Purwakarta mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,90 persen.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh pertumbuhan positif semua sektor. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor industri yang mampu tumbuh sebesar 7,67 persen, selanjutnya diikuti oleh sektor Jasa dengan pertumbuhan 1,81 persen.

Distribusi persentase PDRB secara sektoral menunjukkan peranan masing-masing sektor dalam sumbangannya terhadap PDRB secara keseluruhan. Semakin besar persentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut di dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Disamping itu, distribusi persentase dapat memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor dalam pembentukan PDRB, sehingga akan tampak sektor-sektor yang menjadi pemicu pertumbuhan (sektor andalan) di wilayah yang bersangkutan.

Sampai dengan tahun 2007 sektor industri pengolahan di Kabupaten Purwakarta mendominasi perekonomian dengan kontribusi yang diberikan lebih dari 40 persen yakni 46,90 persen. Pada tahun 2004, 2005 dan Tahun 2006 menjadi 45,07 persen, 45,33 persen dan 46,56 persen.

PDRB perkapita merupakan indikator yang menunjukkan rata-rata nilai tambah bruto yang diciptakan oleh setiap penduduk selama satu tahun pada daerah/wilayah tertentu. Nilai indikator ini belum secara langsung menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat karena masih ada indikator lain yang mempengaruhinya yaitu perkembangan jumlah penduduk.

Selama periode tahun 2000-2007 PDRB perkapita Kabupaten Purwakarta terus mengalami peningkatan. PDRB perkapita Kabupaten Purwakarta atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 adalah sebesar Rp. 13.981.786,-. Nilai ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2006 yang hanya mencapai Rp. 12.284.856,-. Kenaikan ini mencapai lebih dari 13 persen. Terjadinya kenaikan ini tidak secara otomatis menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Purwakarta, melainkan juga diakibatkan masih terkandung faktor inflasi yang sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat di Kabupaten Purwakarta. Sementara itu PDRB perkapita atas dasar harga konstan naik dari Rp. 7.419.994,- pada tahun 2005 menjadi Rp. 7.554.133,- pada tahun 2006 kemudian pada tahun 2007 menjadi Rp. 7.686.737,-.